- Diposting oleh : SMK MUH 3 GEMOLONG
- pada tanggal : November 14, 2025
Seni Karawitan
Karawitan adalah istilah yang digunakan untuk merujuk pada kesenian musik tradisional Indonesia yang berbasis pada instrumen Gamelan dan seni suara (vokal). Kesenian ini sangat khas dan populer, terutama di wilayah kebudayaan Jawa, Sunda, dan Bali, meskipun memiliki kekhasan yang berbeda di setiap daerah tersebut (misalnya, Karawitan Jawa, Karawitan Sunda, dan Karawitan Bali).
Asal Kata dan Filosofi
Istilah "Karawitan" berasal dari bahasa Jawa, yaitu kata "rawit" yang mengandung beberapa makna:
Halus dan Lembut: Ini merujuk pada kehalusan, keindahan, dan kelembutan perasaan yang terkandung dalam alunan musik gamelan.
Rumit atau Berbelit-belit: Ini merujuk pada kompleksitas dan kerumitan sistem nada, ritme, serta garapan musik yang tersusun secara detail.
Dengan demikian, Karawitan dimaknai sebagai kesenian yang memancarkan kehalusan dan keindahan yang diungkapkan melalui suara vokal dan instrumen gamelan dengan sistem nada yang terstruktur.
Sistem Nada (Laras)
Seni Karawitan secara tradisional menggunakan sistem tangga nada non-diatonis (bukan do-re-mi) yang khas, yaitu:
Laras Slendro: Sistem nada yang membagi satu oktaf menjadi lima nada dengan jarak (interval) yang hampir sama rata. Memberikan kesan gembira, ceria, atau sakral.
Laras Pelog: Sistem nada yang membagi satu oktaf menjadi tujuh nada dengan jarak (interval) yang berbeda-beda. Memberikan kesan sedih, haru, agung, atau tenang.
Komponen dan Klasifikasi
Karawitan melibatkan dua komponen utama yang dapat diklasifikasikan menjadi tiga jenis sajian:
A. Komponen Utama (Gamelan)
Gamelan adalah perangkat instrumen musik yang menjadi inti dari Karawitan. Instrumen utama terdiri dari:
Balungan: Instrumen yang memainkan melodi pokok (contoh: Saron, Demung, Slenthem).
Gong Wiyangan: Instrumen penentu batas atau struktur lagu (contoh: Gong Ageng, Kempul, Kenong).
Garapan: Instrumen yang memperindah alunan musik dengan hiasan melodi (contoh: Bonang, Gender, Gambang).
Kendhang: Instrumen penentu irama dan kecepatan (contoh: Kendhang Gending, Ketipung).
Vokal dan Rebab/Suling: Suara manusia (Sindhen untuk wanita dan Wirama untuk pria) dan instrumen melodi Rebab (gesek) atau Suling (tiup) yang berfungsi sebagai pembawa melodi lagu.
B. Jenis Sajian Karawitan
Karawitan dapat disajikan dalam tiga bentuk utama:
Karawitan Gendhing (Instrumental): Sajian Karawitan yang fokus dan didominasi oleh bunyi alat musik gamelan (gendhing).
Karawitan Sekar (Vokal): Sajian Karawitan yang mengutamakan suara manusia (sekar atau tembang), seperti Macapat atau Tembang Jawa, dengan iringan gamelan yang minimal.
Karawitan Sekar Gendhing (Campuran): Sajian yang memadukan secara harmonis antara instrumen gamelan dan vokal (Sekar) secara seimbang.
Fungsi dalam Masyarakat
Karawitan memiliki peran yang sangat penting dalam kebudayaan Jawa dan sekitarnya:
Pengiring Seni Pertunjukan: Sebagai musik pengiring utama dalam pertunjukan seni tradisional seperti Wayang Kulit, Tari Tradisional, dan Ketoprak.
Upacara Adat: Digunakan dalam upacara-upacara adat (seperti pernikahan, khitanan, atau grebeg keraton) untuk menciptakan suasana sakral atau meriah.
Hiburan: Menjadi sarana hiburan yang dapat dinikmati masyarakat luas.
Media Pendidikan: Mendidik rasa keindahan (estetika), kesadaran akan nilai sosial, moral, spiritual, dan filosofi hidup melalui alunan dan liriknya.
Karawitan, sebagai warisan budaya adi luhung, hingga kini terus dilestarikan dan bahkan dipelajari di berbagai lembaga pendidikan seni baik di Indonesia maupun di mancanegara.
